PROSEDUR TINDAKAN KARANTINA TUMBUHAN IMPOR


PROSEDUR TINDAKAN KARANTINA TUMBUHAN IMPOR :

  1. Pemilik / kuasanya melaporkan pemasukan /rencana pemasukan Media Pembawa kepada petugas karantina tentang akan dibawa/dimasukkannya suatu Media Pembawa dari pelabuhan / Bandar udara kedalam wilayah RI dengan mengisi form SP-1 yaitu Laporan pemasukan / pengeluaran / transitmedia pembawa/ Kemasan Kayu / PSAT.
  2. Petugas elakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen-dokumen persyaratan pemasukan, dan hasilnya dituangkan dalam formulirDP-2.
  3. Koordinator Fungsional membuat respon terhadap hasil yang telah dituangkan dalam DP-2 untuk menetapkan tindakan-tindakan karantina selanjutnya.
  4. Terhadap MP yang tidak dilengkapi dengan persyaratan administrasi yaitu:

 

  • Tidak dilengkapi dengan Phytosanitary certificate dari Negara asal;
  • Tidak dilengkapi dengan Phytosanitary Certificate For Re-ekspor dari Negara transit;
  • Tidak dilengkapi Surat Izin Pemasukan Menteri Pertanian khusus untuk tanaman dan bibit tanaman.
  1. Koordinator fungsional akan membuat/menerbitkan KT-8 yaituSurat Penahanan dan proses tindakan karantina akan dilanjutkan apabila pemilik/kuasanya telah melengkapi dokumen-dokumen persyaratan dalam tenggang waktu 14 hari terhadap pemilik dikeluarkan SP-3 yaitu Surat Perintah Untuk Melengkapi Dokumen Karantina Tumbuhan/PSAT, namun jika persyaratan tersebut tidak dapat dipenuhi dikenakan Tindakan Penolakan ( KT-13 ) dengan tenggang waktu 14 hari. Jika proses re-export tidak dapat dipenuhi dikenakan Tindakan Pemusnahan ( KT-14) yaitu berita acara pemusnahan.
  2. Sebagai tindak lanjut dari hasil pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen persyaratan, koordinator fungsional melakukan pengelolaan penugasan para petugas karantina dalam kelompok / individu, dengan surat tugas kepala UPT / pejabat yang ditunjuknya melalui penerbitan DP-1, yaitu Surat Tugas, yang berisi penugasan dalam unit / tim untuk melakukan pemeriksaan kesehatan Media Pembawa (MP).
  3. Hasil pelaksanaan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan di laboratorium dilaporkan secara individu / tim dalam kerangka operasional maupun kewajiban pengumpulan angka kredit sebagai dokumentasi bukti fisik yang dituangkan dengan menggunakan form DP-5.
  4. Bila dari hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium ternyata bebas dari serangan OPTK maka dapat dilakukan penerbitan Sertifikat Pelepasan Karantina Tumbuhan/PSAT (KT-9) Bila tidak bebas dari OPTK diberi tindakan perlakuan. Bila hasilnya dapat dibebaskan dari OPTK, dapat Sertifikat Pelepasan Karantina Tumbuhan/PSAT (KT-9).
  5. Apabila tidak dapat dibebaskan dari OPTK atau MP terbawa OPTK Golongan I, dilakukan tindakan pemusnahan.
  6. Semua tindakan karantina mengakibatkan kewajiban pemilik untuk membayar jasa karantina sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  7. Ketentuan-ketentuan lainnya ;
  • Khusus terhadap tanaman / bibit tanaman impor yang telah dilengkapi dengan persyaratan administrasi, maka pelaksanaan tindakan karantina tumbuhan dilaksanakan ditempat pengasingan dan pengamatan dan dikeluarkan KT-2.Terhadap media pembawa dikenakan penyegelan (DP-15).
  • Tanaman / bibit tanaman impor yang dikeluarkan dari daerah pelabuhan dengan syarat-syarat sebagai berikut :
    1. Sepengetahuan dan / atau dengan pengawalan dari pelabuhan / bandara ke lokasi pemeriksaan / pengasingan oleh petugas sesuai dengan ketentuan hasil analisis resiko OPT
    2. Dipastikan tidak akan terjadi kebocoran / tercecer media pembawa selama perjalanan pengangkutan
    3. Tempat dimana dilakukan pemeriksaan harus di suatu tempat terbuka / longgar / leluasa, jauh dari keramaian memungkinkan untuk dilaksanakannya pemeriksaan dan pengambilan sampel. Tindakan pemeriksaan diluar tempat pelabuhan / Bandar udara yaitu dilokasi instalasi karantina tumbuhan milik pemerintah dan instalasi karantina tumbuhan milik swasta.
    4. Koordinator fungsional mengkoordinasikan kegiatan pemeriksaan awal di lapangan yang meliputi:
      • Mengawasi pembongkaran / pemuatan media pembawa OPT / OPTK;
      • Pemeriksaan kebenaran jenis, volume, jumlah media pembawa OPT / OPTK;
      • Pengamatan / pemeriksaan gejala serangan OPT / OPTK
      • Pengambilan sampel (contoh) media pembawa OPT / OPTK sesuai dengan Teknik dan Metoda pengambilan contoh (sampling) yang telah ditetapkan berdasarkan pertimbangan validitas keilmuan untuk keperluan pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis di laboratorium
      • Pengamatan / pemeriksaan makroskopis OPT / OPTK secara morfologis
    5. Apabila hasil pemeriksaan terjadi ketidak-sesuaian antara kenyataan dan keterangan yang tercantum pada Phytosanitary Certificate (PC) Negara asalnya dan / atau Phytosanitary Certificate for Re-export (PCR) Negara transitnya, maka koordinator fungsional melaporkan kepada kepala UPT untuk menerbitkan DP-16, yaitu Notification of Non Compliance, dan mengirimkan ke NPPO Negara yang menerbitkan PC dan / atau PCR.